Dua Manusia Tropis Menantang Winter di Cappadocia

Setelah mengelilingi Rinjani di akhir tahun 2020 lalu dengan sepeda motor, awal tahun 2022 dibuka dengan kerjaan sampingan sebagai driver (lagi). Tapi untuk kali ini sedikit berbeda — wait, ngga sedikit ini, euy, beda banget! Sekarang driver satu ini sudah go internesyenel, lintas benua, heeey! No, no, I mean, bukan aku lintas benua pake motor, tolooong wkwkwk. Maksutnya nekat naik motor di negara lain. Fix! Pengalaman pertama yang ngga akan pernah aku lupain.

No Plan? Let’s Go With the Flow

Well, to be honest with you, I – we came to Cappadocia with no proper list to check for each day. Asalkan bisa naik balon udara udah lengkap rasanya perjalanan kami di sana. Sisanya liat entar, atau liat mood, dan liat kantong ehehehe. Tapi justru karena kegabutan ini, kami jadi keliling Goreme ngga jelas pagi-pagi setelah sarapan. Jalan kaki cari kartu lokal untuk membantu para buta arah ini, liat toko-toko sekitar, dan pandangan mata kami berhenti di penyewaan motor.

keliling goreme cappadocia

Setelah bertanya perkiraan harga – yang menurutku cukup mahal – kami memutuskan untuk mikir-mikir dulu. Sambil keliling kami berdiskusi. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya kami nekat balik lagi ke tempat awal tadi. Dengan wajah memelas dan jurus pelet ala Sasnita, kami berhasil dapat harga lebih murah. Apalagi karena kami ngga akan sewa motor ini seharian. Mari kita lihat seberapa kuat badan jompo dan tropis ini melawan angin musim dingin dengan suhu 3⁰C. Bbrrr~

Nah, ini dia yang bikin aku suka soal sewa menyewa kendaraan di Cappadocia. Aku ngga paham, ya, kalau di daerah Turki lainnya. Kami diminta mengisi formulir, trus ditanyain bisa naik motor ngga, dicek SIM sama KTP, kasih duit dan here you go. Segampil itu! Ini kayanya sama juga kalau mau sewa mobil, deh. Ngga harus punya SIM internasional, asal bisa nyetir. Setelah instruksi ini itu selesai, kami gaskeeen keliling Goreme!

Keliling Cappadocia Bersama Rider Andalan Lintas Benua

Sepertinya kami berdua adalah manusia tropis paling aneh hari itu. Ngga ada orang sepinter kami yang memutuskan keliling naik motor di cuaca dingin dan berangin. Mana aku ngga pake sarung tangan, kan. Membeku rasanya, menyatu dengan setir motor wkwkwk. Yaudah, lah, nasi sudah menjadi bubur, mari kita tambahkan ayam suwir dan sambel! Dengan mengandalkan maps di hengpon, kami keliling Cappadocia – to be more precise Goreme – dengan jalan makadamnya. Iya, jalannya ngga semulus itu. Sepertinya lagi perbaikan di beberapa sisi, jadi masih tanah gitu, guys. Dan di banyak bagian lain justru berbatu, eh mirip paving gitu, lah.

naik motor di cappadocia
check cappadocia maps
menerawang kebodohan kami berdua

Tempat pertama yang jadi tujuan kita adalah Pottery Maker. Ini ngga direncanain sama sekali, asal belok aja pas liat di pinggir jalan. Ngga masuk, sih, tapi foto-foto aja di depannya terus ngloyor pergi ke Goreme Open Air Museum. Fyi, kita satu-satunya motor yang muncul di parkiran museum wkwkwkwkw. Nah, setelah melihat harga di loket dan sikon sekitar, kami memutuskan untuk ngga masuk. Malah kami milih duduk di pinggiran jalan sambil menyerap sinar matahari pagi hari itu.

Tersesat di Lembah Cantik Cappadocia

Destinasi selanjutnya yang masih bisa kami jangkau adalah menikmati cantiknya bebatuan di lembah Goreme. Jujurly, aku ngga inget apakah Rose Valley atau Love Valley yang kami datangi. Atau apakah mereka di kompleks yang sama, kami juga ngga paham. Ini yang patut disayangkan kalau sok ngide ngiter sendirian dan buta arah wkwkwk. Awalnya kami sempet ragu antara boleh atau ngga motor sewaan kami masuk ke daerah ini. Ya gimana, di bagian jalan masuk banyak banget yang sewain ATV sama kuda. Kalau ngga gitu, yang masuk situ mobil semua. Lagi-lagi kita satu-satunya motor yang nekat off road di sana. Mana matic pula! Udah, deh, jelas salah kostum!

yellow truck at rose valley
cappadocia view

Dengan mengikuti rute yang biasa dilewati kuda dan ATV, kami berhasil sampai di lokasi pewe tempat kami bisa melihat bebatuan merah muda yang cantik dari kejauhan. Ngga puas dengan pemandangan ini, kami coba cari rute lain untuk bisa lebih dekat ke bebatuan itu. Apalagi triggernya kalau bukan foto-foto cantik influencer di medsos fyuuh~. Maka tak heran kami tersesat berkali-kali di rute yang salah. Entah ketemu jalan buntu, jalan yang ngga berani kami lewati karena terlalu tajam kelokannya dan ngga mulus, atau malah rutenya semakin jauh ke tempat tujuan. Sempet jatuh di rute sempit karena batu segede kepala di tengah jalan, kami kapok! Eh, apa emang kita salah lokasi dan jalur masuk dari awal? Entahlah, harus dibuktikan ke sana lagi, sih!

Ngewarung to the Rescue

Setelah mencari beberapa kali dan gagal, kami mencukupkan diri dengan pemandangan itu. Waktu sewa motor masih begitu panjang, tapi manusia tropis nan jompo ini sudah tak sanggup melawan suhu di bawah lima derajat dan kebutan di jalan. Yawes, ngewarung aja, deh! Apa yang paling bisa menghangatkan selain duduk di warung, makan, dan sedikit berjemur di bawah matahari. Karena ngga ada mie kuah ala warmindo yang endolita itu, kami memesan spaghetti dan nasi dengan daging. Lupa nama lengkap menunya apa ehehe. You know what? Porsinya gede bingo! Sampe harus take away karena ngga bisa abisin di tempat dan masih di tambahin satu keresek roti. Amaan sampe makan malam ehehe.

Setelah perut terisi, kami memutuskan untuk balikin motor sewa dan pulang ke penginapan. Makin sore makin dingin, euy! Selain itu cari cuan masih harus jalan, alhasil harus balik ke kamar dan buka laptop buat kerja. Syukurnya karena keluyurannya ngga jauh, bensin ngga keliatan berkurang. Ngga rugi harus isi ulang yang mana pom bensinnya jauh banget. Yeeay!

Semoga bisa balik lagi ke Cappadocia di musim yang berbeda, biar bisa naik motor sampe puas tanpa menggigil kedinginan!

1 thought on “Dua Manusia Tropis Menantang Winter di Cappadocia”

  1. Pingback: Dari Hot Air Balloon Cappadocia Kami Belajar Merelakan – aymentari

Leave a Reply