Dari Hot Air Balloon Cappadocia Kami Belajar Merelakan

Hot air balloon Cappadocia sepertinya akan jadi daftar paling atas banyak orang ketika ke Turki, begitu juga aku. Sampe ada yang bilang belum sah ke Cappadocia kalau tidak mencicipi atraksi satu ini. Meskipun harus merogoh kocek yang lumayan untuk terbang selama kurang lebih satu jam, rasanya pasti worth it. Ya gimana, at least pengalaman sekali seumur hidup. Tapi gimana jadinya kalau udah jauh ke sana dan disambut ketidakpastian?

Berburu Hot Air Balloon Cappadocia Paling Murah

Well, let me tell you this story from the start. Sejak satu bulan sebelum keberangkatan, kami sudah rajin mencari informasi dan membandingkan penyedia jasa balon udara. Bahkan aku sempat cari-cari orang yang baru dari Cappadocia dan tanyain harga yang mereka dapat. Setelah mempertimbangkan semua rekomendasi, kami akhirnya menemukan yang pas. Dari segi harga dan fasilitas udah paling cocok pokoknya.

Sampai kemudian kami memutuskan bayar DP dengan asumsi bahwa setelah itu bisa fokus mikirin perintilan lainnya. Sayangnya, kartu pembayaran yang kami punya ngga bisa dipakai. Tanpa pikir panjang kami berhasil ngakalin yang jatuhnya malah rugi karena salah hitungan kurs yang beda-beda. Ya sudah lah, semoga dapet gantinya. Begitu pikir kami untuk menenangkan hati.

Kios Kartu Internet Pembawa Berita

Dengan rencana tiga hari di Cappadocia, kami memilih hari kedua untuk terbang. Hari pertama kami takut terlalu capek setelah flight panjang dari Indonesia. Sedangkan hari ketiga akan kami pakai untuk prepare otewe ke tujuan selanjutnya. Di hari pertama, setelah sarapan kami bergegas keluar dan melihat beberapa hot air balloon Cappadocia mengudara di langit yang biru. Jumlahnya ngga terlalu banyak, sih, tapi udah seneng banget lihatnya. Itu artinya besok giliran kami nikmatin view dari atas. Yes, bisa update story, deh! Wkwkwk~

Setelah puas foto-foto dengan view itu, kami pergi membeli kartu internet di salah satu kios di Goreme. Pemiliknya sedang duduk di balik meja dan seorang pelanggan sedang berdiri di dekat penghangat ruangan. Mereka sangat ramah dan bertanya pada kami apakah sudah memesan balon udara untuk besok. Dengan bangga dan wajah berbinar, kami mengangguk. Well, there will be no flying balloon tomorrow, begitulah kira-kira yang dibilang oleh pemilik kios. Wait, are you kidding me? Becandanya ngga lucu si Bapak, nih! Ngga terima rasanya denger kabar ini. Walhasil kami minta penjelasan lebih detail.

Rupanya selain sebagai pemilik kios si Bapak ini merangkap jadi pilot balon udara juga. Sampai-sampai kami ditunjukkan aplikasi di hengponnya yang menunjukkan prakiraan cuaca untuk esok hari. Besok pagi akan berangin dan mendung, begitu jelasnya. Dengan kondisi tersebut, sudah pasti 100% ngga ada yang terbang. Duuh, Pak, runtuh sudah harapan kami hari itu. Trus kami harus gimana, dong?

Selalu Ada Harapan Bila Kita Percaya, Kan?

Kami keluar kios dengan masih berusaha mencerna informasi itu, berharap bahwa kami kena prank. Sore hari, setelah mendinginkan otak dengan berkeliling Goreme, kami menghubungi agen tempat booking hot air balloon Cappadocia sekaligus memastikan info tersebut. Eng ing eeng~ berita buruk kedua tiba. Si Babang pemilik agen mengiyakan kalau ngga ada yang terbang besok. Dia menawarkan dua opsi pada kami, hold uang untuk hari ketiga atau dibalikin DPnya. Hmmm, bingung hayati mau gimana hiks.

Syukurnya, Emim – resepsionis penginapan kami – membawa secercah harapan yang indah ceilaah~. Dia menawarkan harga hot air balloon yang lebih murah, take it or not? Tentu saja dengan pertimbangan waktu dan uang, kami pindahkan uang DP tersebut ke Emim. Sip, berarti kami masih bisa melakukan beberapa hal di hari kedua dan sebelum pulang kami masih bisa naik hot air balloon. Akhirnya bisa tidur tenang malam itu.

Manusia Bisa Berencana, Cuaca yang Menentukan

Ternyata prediksi dari pilot berpengalaman tepat sasaran. Pagi-pagi di hari kedua ketika kami jalan-jalan cari sunrise di bukit belakang hotel, hanya mendung yang menggantung di langit. Ngga usah ditanya lah soal anginnya kaya gimana. Di semua hasil foto ngga ada posisi kerudung yang bener, meleyot semua, Bund! Long story short, kami bertemu Emim di hotel lepas ashar setelah balik dari Green Tour. Dengan raut muka kecewa dia bilang ngga akan ada balon terbang besok pagi. Cuaca akan lebih parah dari hari ini, bahkan sepertinya akan gerimis. TIDAAAAK!

pemandangan goreme
ditemani mendung sepanjang hari

Lemas lunglai, uang hot air balloon yang kembali di tangan sama sekali ngga menenangkan hati kami. Jujur, kami ngga menyangka akan dikejutkan seperti ini. Mimpi untuk bisa menikmati Cappadocia dari atas sudah hancur berantakan. Tiga hari kami menunggu dan cuaca belum berpihak sama sekali. Apalagi mantra paling mujarab di saat seperti ini selain membesarkan hati bahwa akan ada kesempatan di lain waktu. Dah yok mari kita move on!

Yang Paling Menyakitkan adalah Tentang Ketidakpastian *curhat

Tiket bus menuju Ankara besok pagi sudah ada di tangan. Kami harus mengucap perpisahan ke Cappadocia dengan berat hati dan belajar legowo. Emim menyambut kami dengan tawa yang lebar di meja sarapan. Dengan wajah penuh keyakinan dia menawarkan pada kami untuk extend karena besok cuaca akan sangat cerah dan banyak balon akan terbang. Woi laah, udahan dong mainin hati kami huhuhu~

Namun, mendengar itu kami saling berpandangan dan otomatis sepakat untuk segera menuntaskan sarapan dan keluar hotel. Meskipun wajah sumringah tapi kami sangat ragu karena banyak pertimbangan. Jadwal bus ke Ankara sudah di depan mata. Hotel di Ankara sudah siap ditempati ketika tiba di sana siang hari. Di sisi lain hati belum rela pergi karena satu impian belum terpenuhi. Kami sudah menunggu tiga hari, harusnya boleh dong berharap satu hari lagi, siapa tau rejeki. Who knows?

sunrise cappadocia
mengumpulkan harapan yang runtuh hiks

Di gang depan hotel adu argumen terjadi. Aku meyakinkan diri dan berhasil mempengaruhi Sasnita berdasarkan apa yang aku dengar dari pilot di kios kemarin. Cuaca bisa diprediksi dengan pasti di atas jam dua siang sedangkan kabar dari Emim kami dengar sebelum jam 8 pagi. Itu berarti masih ada kemungkinan kalau hot air balloon gagal terbang. Ditambah lagi kenyataan bahwa masih ada rencana ke depan yang tidak mungkin diubah karena penginapan, tiket, dll. Ketidakpastian hot air balloon memang menggoda, tapi kami ngga bisa mengorbankan yang pasti. Hmm…

Hot Air Balloon Cappadocia, Tunggu Kami Datang Lagi, Ya?

Untuk terakhir kali kami duduk di kamar dan memantapkan hati. Dengan wajah lesu kami berakhir menggeret koper menuju terminal. Sambil duduk menunggu masih terbesit harapan bahwa kami telat dari jadwal bus. Jadi masih bisa membuktikan harapan terbang bersama balon udara besok. Nyatanya bus terlihat mendekat dari arah kejauhan. Angin yang dingin dan jalan yang basah pagi itu mengiringi kami meninggalkan Goreme dan bertolak menuju Ankara.  Semoga tahun lainnya kami berhasil menikmati Cappadocia dari balon udara. AAMIIN!

One thing to remember, don’t expect too much, cuaca memegang kendali! Anggap saja kami sedang tidak beruntung saat itu. Terimakasih sudah membaca drama kami sampai akhir~  

1 thought on “Dari Hot Air Balloon Cappadocia Kami Belajar Merelakan”

  1. Pingback: Green Tour Cappadocia Adalah Keputusan Tepat Setelah Gagal Terbang – aymentari

Leave a Reply