Makanan Turki dan Penginapan

Hai hai! Semoga ngga bosen, ya, baca ceritaku soal Turki. Well, setelah cerita tentang transportasi Turki, kali ini aku mau share sedikit cerita soal penginapan dan makanan selama di Turki kemaren. Buat yang kedua sebenernya ngga begitu banyak yang bisa dibagikan, dan ngga akan ada tulisan khusus kuliner Turki. Kenapa? Lanjut baca dulu, deh.

Pertanyaan dan asumsi yang sering muncul soal traveling ke luar negeri adalah emang ngga mahal harga hotelnya? Lagi-lagi hal kaya gini balik ke pribadi masing-masing. Pertama, konsep mahal ini bisa jadi beda tiap orang, kan. Kedua, selalu ada pilihan harga yang beragam bahkan diskon yang lumayan bisa dipake untuk hemat pengeluaran. Yang kedua ini selalu jadi prinsip utama kalau lagi merenung dan memperhitungkan soal penginapan.

Selama di Turki kemarin kami pesan semua hotel lewat Booking.com. Alasan utamanya adalah karena beberapa harga yang ditawarkan lebih murah daripada aplikasi yang lainnya. Secara pribadi aku juga lebih suka karena harga yang muncul sudah akumulasi dari berapa malam kita menginap di sana. Otak yang mampet soal itung-itungan ini sungguh merasa diuntungkan.

hotel di ankara

Di aplikasi ini, ngga semua hotel akan langsung potong pembayaran meski kamu sudah masukin informasi kartu kredit di sana. Jadi ketika sampai hotel baru bayar langsung sebelum check in. Oh ya, sedikit tips dari aku. Sebelum memutuskan buat pesan hotel, aku cross check foto yang ada di aplikasi sama foto review yang ada di Google. Hanya untuk membandingkan gambar asli dan foto buat promosi wkwkwk.

Selanjutnya, demi kebutuhan bertahan hidup di negara orang, tentu saja perut harus diisi sesuai jamnya. Bisa dibilang Turki memiliki range harga makanan yang cukup murah. Ngga perlu shock harus mengkonversikan karena jatuhnya sama kaya tinggal di kota besar Indonesia. What you need to note is that, aku ngga akan membagikan rekomendasi makanan khas Turki yang harus dicoba. Jujurly, lidah Indonesiaku ngga cocok sama makanan yang ada di sana. Bisa menerima tapi ngga untuk berkali-kali makan. Padahal nih, makanannya tasteless, alias lebih sehat. Tapi …. Eheheehe~

Selama di Turki kami menggantungkan sarapan ke hotel, sederhananya biar ngga ribet cari makan pagi-pagi. Karena hal ini, tentu saja paket lengkap sajian kahvalti atau sarapan khas Turki akan tersedia di meja. Ngga ada pilihan nasi pecel atau bubur ayam tentu saja. Tapi ada beberapa komponen makanan yang harus ada di piring kalau kamu mau coba kahvalti ini. Yang pertama adalah roti yang sedikit keras dan alot, bukan roti tawar, ya. Selanjutnya ada buah zaitun yang dikenal sangat bermanfaat. Lalu ada daging olahan, timun, tomat, selai berbagai rasa dan tentu saja keju dengan pilihan yang beragam. For your information, keju di sana rasanya ngga sama kaya yang ada di Indo, guys. Ngga tau juga kenapa bisa beda kaya gitu.

makanan turki kahvalti

Di hari pertama sarapan, sengaja aku ambil sesuai dengan yang aku lihat di gambar, meskipun ngga lengkap. Awalnya aku merasa makanan mereka rasanya unik. Lama kelamaan aku merasa rasa dan baunya kurang cocok sama indra perasaku. Beruntungnya mereka ngga hanya menyediakan ini di hotel. Ada beberapa pilihan lain yang lebih bisa diterima lidah dan perut. Contohnya telur rebus andalan kita semua. Sejak itu, kentang dan telur rebus, roti dan sedikit sayur yang akan jadi pilihan utama. Surprisingly, sarapan kaya gini bisa tahan sampe siang atau sore, guys. *antara kenyang beneran atau nahan laper beda tipis, sih.

Kalau untuk makanan di luar, aku merekomendasikan untuk coba kebab. Siapa lagi yang ngga tau soal kebab di Turki. Dari segi harga murah, guys, hanya sekitar 18TL. Ukurannya? Ngga usah ditanya, tentu lebih besar dari kebab lokal Indonesia. Rasanya? Aku ngga tau, sih, karena emang ngga nyoba. Laah, kan emaan… yaa mau gimana lagi, mau beli tapi udah males duluan ngebayangin rasa daging dan bumbunya yang ngga sama. Kalau kamu orangnya penasaran dan ngga picky, please give it a try! Makanan mereka banyak banget yang menarik.

Trus selama di sana bertahan hidup pakai apa, dong? I will definitely go for fast food restaurant yang jual ayam goreng. Seriously, ini rasa yang paling aman untuk dimakan terus-terusan. Tapi ngga usah ngebayangin ayam goreng dan nasi hangat pake saos sambel. Di sana pilihannya adalah ayam pake kentang dan burger trus ditambah mayo dan saos tomat. Kalau ke sana, bawa saos sambel sendiri, ya! Wajib!

Beruntungnya, makanan fast food seperti KFC, McD, atau Popeye ngga semahal harga di tanah air. Sekali makan ambil paket burger dan ayam buat berdua, contohnya, cukup bayar 45TL. Kalau mau enak dikit pake full ayam bayarnya sekitar 65TL. Ini udah termasuk cola dan kentang goreng yang bwanyak pwol. Seriusan, kenyang!

Serunya lagi, nongkrong cantik dan nyantai di Starbucks tidak akan menyiksa kantong. Harganya murah, euy! Kalau dibandingkan sama Indo, bisa separuh lebih murah. Jadi imbang kan, bisa makan enak trus ngopi enak juga. Ohya, Turki punya teh dan kopi khasnya, kan. Kalau lihat di sosial media pasti banyak banget yang bisa dijadiin referensi. Tapi aku ngga nyobain kopinya kemaren karena takut. Tehnya aja pahit, jadi kalau kopi hitamnya mendingan skip deh. Cukup cobain Nescafe instan yang baru kusesali ngga beli lebih banyak karena endolitaaa…

Sebagai variasi biar ngga junk food terus, kami beberapa kali sempat mencoba makanan selain perdagingan duniawi. Pilihannya tentu jatuh ke yang amis-amis yaitu ikan. Kalau ngga salah kami coba ikan laut selama di Bursa untuk sarapan dan makan. You know, beruntungnya makanan laut di sana ngga beda jauh. Lagi dan lagi, don’t expect that much. Maksudnya kamu ngga bisa minta nasi satu bakul, sambel terasi satu cobek, dan lalapan satu piring serta kobokan. Seriously, ini yang sempat aku bayang-bayangkan setelah memesan ikan goreng di sana. Dikasihnya pisau dan garpu, bawang bombay mentah dan sedikit sayuran dan karbonya tentu dari kentang. Untungnya aku bawa saos sambel, jadi lidah ngga hambar pas makan wkwkwk.

makanan turki seafood
Çipura and Potates

To be honest, aku sedikit ragu mau cerita soal makanan satu ini. Tapi semoga kalian bijak ya menanggapi ceritaku. Jadi setelah seminggu lebih kami dijejali dengan hidangan Turki, rasa haus akan cita rasa Indonesia meronta-ronta. Dan ini ngga bisa diobati pake soto dan ayam bawang dalam kemasan mie instan ehehehe. Akhirnya, kami menemukan tempat makan Indonesia yang ngga jauh dari hotel. Senangnya ketika masuk kami disambut dengan sapaan Indonesia yang fasih. Langsung saja kami pesan menu paket ayam dan iga. Jarang banget kami pesan makan yang banyak seperti ini karena satu porsi sudah cukup untuk makan berdua. Tapi karena kalap dan kangen makanan indo, bodo amat dah!

Setelah menunggu cukup lama, kami senang karena ada nasi, mie goreng, capcay, dan ayam goreng. Sedangkan di piring satunya menu utamanya adalah iga bumbu kecap. Ngga lupa ada sop disajikan di mangkok terpisah. Oh, ada kerupuk dan sambel ijo juga. Pas kami coba satu per satu, lagi-lagi kami dijatuhkan ekspektasi. Rasa mie gorengnya enak, mirip sama yang di warteg gitu. Capcaynya juga lumayan, tapi aku ngga begitu suka. Ayam gorengnya aman jaya meskipun kurang nendang karena rempah-rempahnya kurang. Sambelnya biasa aja, meskipun cukup menambah rasa pedas.

Nah, yang cukup disayangkan di sini adalah nasi dan iganya. Ngga ada namanya nasi pulen dan anget tapi nasi yang rasanya masih sedikit mentah. Sedangkan iganya, oh my god, emaaan bangeet karena porsinya banyak tapi sama sekali ngga dimakan. Lagi-lagi ada bau dan rasa khas Turki yang nempel di daging ini. Aku sendiri ngga yakin apakah memang karena bumbu atau rasa dagingnya sendiri udah beda. Akhirnya dengan berat hati kami menyudahi santap makanan itu dan harus membayar cukup mahal. Hikss… mau nyesel juga yaudah lah, ya, at least sedikit terobati rasa penasarannya. Setelahnya kami menghibur diri dengan jalan-jalan malam di Hagia Sophia dan makan jagung bakar.

makanan turki jagung bakar

Kalau kamu ke Turki, makanan Turki apa yang mau dicoba?

Leave a Reply