Sarapan Ala Warlok adalah Perpisahan Terindah

Petualangan kuliner ala dompet backpacker di Penang ditutup dengan sarapan ala warlok yang syahdu dan nikmat. Bukan tempat fancy dan penuh review bintang lima di Google. Bukan pula tempat yang masuk daftar rekomendasi di pamflet yang berjajar di agen perjalanan. Melainkan sebuah tempat sederhana di tikungan jalan yang tidak sengaja kami lewati. Tapi justru memberikan kesan yang indah, yang membuat kami enggan berpindah.

Sarapan Ala Warlok di Wartijal

Hari itu kami harus check out dari hotel. Lebih tepatnya harus meninggalkan Penang dan terbang ke Singapore. Negara yang pasti akan menyenangkan. Tapi bukan berarti kami akan bergegas ke bandara, dong. Setelah beberes dan mandi, kami menyempatkan jalan pagi sebentar ke pantai yang semalam sempat kami lewati tapi tak mungkin dikunjungi saat itu. Matahari sudah mulai tinggi sebenarnya, tapi jalan tidak terlihat begitu ramai. Kami berfoto, menikmati pantai, dan memperhatikan orang-orang yang melakukan banyak aktifitas di sana.

Setelah cukup puas, kami berjalan pulang. Di pertigaan besar itu, tepat berseberangan dengan sebuah hotel ternama, kami melihat orang sedang berkerumun di warung kecil. Sebut saja, Wartijal, Warung Tikungan Jalan. Kalau mau dibilang, seperti angkringan ala Indo, yang sesak berjejalan di pinggiran Jogja sana. Tapi kali ini berbeda, beda waktu dan settingan. Em, maksutnya ngga ada lesehan atau kursi panjang mengelilingi gerobaknya. Melainkan kursi dan meja yang ditata rapi tepat di tikungan jalan raya dengan pembatas jalan di pinggirnya. Beruntungnya belum begitu banyak kendaraan bersilewaran saat itu. Kami tanpa ragu memutuskan untuk mampir, sekalian mengisi tenaga dan sekali lagi menikmati pagi di Batu Ferringhi. Untuk terakhir kali.

Baca Juga – Cerita Kuliner Tak Terlupakan

Sarapan Nasi Kucing Negeri Jiran

Karena niat hati memang untuk sarapan yang sederhana dan mudah, maka kami mampir ke tempat ini. Tentu setelah memastikan ada makanan berat untuk mengisi perut. Pilihannya nasi bungkus beragam pilihan. Sebenernya dari segi ukuran lebih pas kalau disebut nasi kucing, sih. Yaps, ukurannya kecil-kecil dengan tag nama di sana. Ada nasi lemak, bihun goreng, mie, dan banyak lainnya. Ngga mau ambil resiko pagi-pagi, kami mengambil tiga pilihan tersebut, masing-masing satu bungkus. Kurang lebih penampakannya akan seperti di bawah ini. Rasanya standar nasional, lah, ya.

sarapan nasi lemak ala warlok

Teh Tarik Paling Menarik

Sarapan kami semakin berkesan dan perjalanan Penang ditutup dengan menyenangkan setelah dua gelas teh tarik hangat disajikan di atas meja. Gelas yang beruap dan gelembung di permukaan gelas otomatis menarik bibir kami untuk tersenyum. Hangat dinding gelas itu menjalar ke tangan dan hati kami juga. Tegukan pertama setelah minuman itu lewat kerongkongan, kami hanya saling tertegun dan berpandangan dengan tulisan besar di wajah INI ENAK BANGET. Pengen otomatis nyender di kursi trus liatin motor lewat dengan buncah bahagia, gitu. Sayangnya kursinya ngga ada senderannya, sih hehee.

teh tarik pelengkap sarapan ala warlok

Waktu berjalan cepet banget, teh masih sisa separuh, dan harus ditenggak paksa karna ngga mau membuang tetes terakhir sekalipun. Kami membayar dan segera bergegas ke penginapan dan menuju bandara. Udah ngga usah tanya abis berapa sarapan pagi itu. Yang jelas murah meriah bonus menikmati rasanya menjadi warga lokal. Sambil jalan pulang aku sempat memperhatikan, franchise makanan terkenal, seafood, dan resto lainnya di sekitar situ berasa ngga ada apa-apanya. Pokoknya aku seneng banget bisa sarapan di bawah lampu lalu lintas pagi itu.

Terimakasih, Penang. Til we meet again. Mwah!

Leave a Reply