Nasi Kandar adalah Tentang Rasa yang Tertinggal

Mencari referensi makanan di berbagai media adalah rutinitas wajib, termasuk memasukkan nasi kandar dalam daftar wajib dicoba. Semangat dan rasa penasaranku semakin besar karena banyak teman sempat kasih testimoni kalau makanan Penang enak dan menggiurkan. Oh, ya? Tunggu, ini aku yang emang ngga tahu tempat makan enak atau seleraku yang aneh, ya? Maksudku adalah, nasi kandar ini memberikan rasa yang tertinggal bahkan hingga sekarang. Hah, maksudnya gimana, dah? Emm, mending baca, deh!

Di Tengah Kelaparan, Nasi Kandar adalah Penyelamat

Malam yang seharusnya penuh semangat jadi sedikit layu karena cacing di perut yang sudah merongrong minta jatah. Jalanan dari penginapan menuju pencarian makan aku bayangkan menjadi menyenangkan, karena itu adalah malam pertama kami di Penang. Tapi ya gitu senggol bacok mode on karena belum isi perut. Yang buat lebih geregetan lagi adalah kami harus benar-benar yakin makanan itu sudah ada cap halal. Laper tapi picky. Food street night di jalan-jalan sempit tapi ramai pengunjung itu tidak bisa menarik perhatian kami. Sambil menunduk memandang layar ponsel pintar mencari rekomendasi makanan halal, kami menemukan Restaurant Kassim Mustafa Nasi Dalcha sebagai pemadam kelaparan.

Baca juga: Kesan Pertama di Penang

salah seorang pelanggan di nasi kandar yang makan dengan lahap

Setelah memastikan penjualnya adalah seorang muslim, dan ada cap halal di papan, kami masuk ke dalam. Pengunjung di tempat ini di dominasi oleh orang-orang berwajah India. Bau rempah-rempah ketika kami duduk langsung menyergap hidung. Bau yang kuat. Meskipun belum pernah datang langsung ke India, bukankah ini memang ciri khasnya? Rempah yang kuat, banyak, dan beragam. That was the only option, then I gave it a try.

Keramaian Rasa Dalam Satu Piring

Rupanya, cara pesan makan di sini sama seperti di warteg, pakai metode ala touchscreen hahaha. Tunjuk dan wallaa~ muncul deh di piring. Awalnya butuh waktu untuk memproses cara pemesanan di sini. Syukurnya ada pembeli sebelum aku yang bisa diamati. IT WAS JAW-DROPPING MOMENT! Dalam satu porsi bisa dibagi jadi 3x makan seharian. Buwanyak buwanget! Seriusan itu porsi kuli, bahkan ukuran nasi bungkusnya aja beda, cuy. Jadi aku langsung bilang untuk makan di tempat dan aku perhatiin beneran itu penjualnya pas taruh nasi di piring. Aku bilang stop dan minta dikurangin beberapa kali. Ya kali mau begah duluan di malam pertama, to. Eh, maksutnya masih mau keliling dulu siapa tau nanti ketemu cemilan pinggir jalan.

Aku langsung tunjuk ayam goreng warna merah yang besar dan seakan sudah menanti sejak lama. Ini memang wajib banget coba, sih, karena enak dan ngga pelit ukuran. Selain itu aku minta tambahan sayur kubis berbumbu kuning. Sedangkan Renny memesan cumi ditambah dengan olahan semacam babat gitu dan sayur kubis yang sama. Setelah lauk dan nasi siap di atas piring, penjual akan menyiram dengan berbagai bumbu yang berbeda dari warna kuning, coklat, merah. Panci-panci besar sebagai wadah bumbu itu terlihat menakjubkan. Ini kali, ya, yang buat nasi ini dinamakan nasi kandar. Eh, apa hubungannya, dah? Ya ngga tau juga, aku mau kepo-kepo itu bumbu apa aja udah takut duluan disemprot orang-orang yang lagi antri di belakang.

By the way, JANGAN KETINGGALAN PESAN TELUR ASIN. ENDOLITA ESTAURINA. Ntar aja pikiran kolesterolnya, ya!

nasi kandar dalam satu piring dengan porsi yang besar
RM26 untuk dua porsi

Yang Tak Terlupakan dari Nasi Kandar

Buat kamu yang baru coba pertama kali, nasi kandar sekilas mirip dengan nasi padang, tentu saja dengan takaran dan jenis bumbu yang berbeda. Soal rasa, hmmm, awalnya kamu akan begitu bahagia bisa merasakan makanan ini. Kaya orang pertama kali coba dan masih takjub dengan rasa baru yang berkenalan dengan lidah. Karena rasa lapar yang sangat aku menikmatinya. Di awal hingga pertengahan porsi. Rempah-rempah khas india yang kuat banget buat eneg lama-lama. Jadi dari tengah ke belakang sampai habisin makanan, kami butuh waktu cukup lama untuk mencerna. Dengan pelan tapi pasti kami singkirkan bumbu yang sudah terlanjur campur jadi satu. Tapi pantang buat ngga abisin makanan kalau perutku masih sanggup.

Saran aja, nih, kalau kamu ngga suka rasa yang kuat, mendingan pesen yang kuahnya dikit aja. Jangan kaya aku kan, angguk-angguk doang pas ditanya, makanya semua dimasukin piring. Ya karena ngga tau bedanya tadi. Atau setidaknya cobalah tanya bumbu apa saja yang mereka pakai jadi bisa antisipasi akan seperti apa rasanya. Kalau masih takut ngga bisa makan, ya cukup pesan nasi ayam goreng dan telur asin. Ayamnya aja udah penuh rempah-rempah jadi cukup bisa mewakili menurutku. Kenapa aku bilang gini? Karena aku masih trauma pas cium bau rempah yang kuat terutama yang berhubungan dengan India. Bahkan sampai berbulan-bulan rasanya masih terngiang-ngiang, eh masih terasa di indra pengecap.

Jadi singkatnya, makanan ini wajib dicoba. Tapi buat aku pribadi cukup sekali aja. Boleh, sih, kalau ada kesempatan di tempat lain tapi ngga dalam waktu dekat hahha. Setidaknya aku udah belajar harus ngapain dan pesan apa nanti.

Sila nikmati~

Don't Miss This

Leave a Reply