Pulang ke kampung halaman masih jadi hal yang selalu aku tunggu. Dulu seminggu sekali sudah bisa dipastikan pulang. Sekarang intensitas mulai menurun. Jadi dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Sejak liburan lebaran kemarin, tepat sebulan aku memendam rindu. Rindu rumah dan jalan-jalan. Jadi, ketika aku melihat kalender dengan potensi liburan agak panjang, aku wajib pulang. Well, tiba di rumah hari Sabtu sore ketika itu, 5 Agustus 2017. Langsunglah ku kontak teman yang sudah jadi langganan untuk keluyuran bareng. Dan ya emang rejeki nggak kemana. Pucuk dicinta ulampun tiba. Tsaaah..

Si Agung ngirim sebuah poster Grand Opening Lekso Adventure. Sebuah tempat baru yang sedang membuka wana wisata river tubing. Yah, namanya juga orang kurang piknik, langsung lah ku ketik ‘KUY’ sebagai tanda deal. Bisa dipastikan esok hari aku tak akan ada di rumah

Bersih-Desa-Krisik

Aku tak tahu mengapa magnet kasur di rumah dan tempat rantau berbeda. Pagi itu aku bangun kesiangan. Segera aku buka Whatsapp. Benar saja, Agung sudah mengirimi pesan. Langsung saja aku loncat dari kasur dan bersiap. As you know, namanya juga river, jadi intinya main di kali. Baju ganti wajib masuk ke dalam tas. Begitupun dengan kawan-kawannya.
Kami meluncur dari rumah sekitar pukul 7.30 pagi.

Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk tiba di lokasi. Perjalanan menuju Desa Krisik, Gandusari pagi itu cukup menyegarkan. Hawa dingin yang sedang rajin menyapa membuat hidung lebih semangat menghirup udara. Melewati sawah yang menghijau, jalan yang berkelok, dan juga kebuh teh Bantaran sebelum tiba di basecamp. Dah, pokoknya mirip lah sama kaya di tivi gitu.

Setibanya di pasar Krisik seseorang memanggil. Ya, basecamp Lekso Adventure memang terletak di depan pasar. Jadi untuk kamu yang bingung, letaknya ya di sekitar situ. Kalau dari arah Blitar, letaknya di kanan jalan sebelum jembatan. Searah dengan jalan menuju Rambut Monte dan Sumber Dandang. Ketika aku menoleh melihat siapa yang memanggil, benar saja, aku kenal dia. Salah seorang kakak kelasku dulu waktu MI. Namanya mas Pandu. Seorang admin Jelajah Blitar. Dia ini juga kakak dari temanku pas di MI dulu. Ya, sekelas denganku dan Agung. Gimana? Dunia udah kelihatan kecil belum? Hehee~

Lekso Adventure
Setelah turun dari motor, ku salami satu persatu orang yang ada di sana. Pertama kali bertemu mereka – sebagian besar lebih tepatnya – terasa begitu awkward. Antara pencitraan, jaga image, atau emang watakku yang seperti itu, entahlah. Aku menjadi pendengar setia dan pengumbar senyum. Haha hihi ketika mendengar mereka bercerita.
Sesi perkenalan, tanya jawab, dan sharing dimulai di belakang basecamp. Dengan beralaskan tikar, matahari yang terhadang mendung, kopi hitam bukan kupu-kupu dan susu sapi murni. Mantap soul! I couldn’t ask more! It was a good start. Oya, ditambah dengan beberapa tenda yang terpasang di sekitar. Wuhuuu~

Waktu merambat menuju siang. Kami bersiap untuk turun. Turun ke sungai maksudnya, kan namanya river tubing, coy. Tapi setelah sarapan, dong. Tubing itu perlu tenaga ekstra, makanya sarapan dan minum susu itu perlu. So, setelah beberapa kali gagal take video, kami berangkat ke lokasi start. Letaknya di Sumber Dandang. Dengan mengendarai mobil kami berangkat bersama. Brrmmm…

Lekso Adventure

Nah, cerita tentang river tubing di Lekso Adventure bisa dibaca di sini. Sekarang kuy fokus kenapa judulnya bisa kaya gitu. Hemm.. jadi setelah 2 jam lebih terombang-ambing arus sungai, kami kembali ke basecamp. Sudah wangi, sudah ganti baju, trus makan siang. Di sinilah asal muasal judul tersebut muncul gaes. Semua orang lebih mengenal istilah dunia tak selebar daun kelor, tapi aku mau pakai kemangi aja lah. Kenapa? Karena lebih kecil, bermanfaat dan enak dimakan.

Lah, apa dong hubungannya? Well, Blitar adalah kota yang kecil tak seperti kota tetangga Malang atau Kediri. Kemudian, kami semua yang berkumpul hari itu adalah mantan anak rantau yang masih sering pergi luar kota. Meski tak memiliki tujuan semulia mereka, tapi niatnya adalah bagaimana membagikan manfaat pada kampung halaman. Aku numpang ikut-ikutan aja. Trus, namanya juga temen yang sama suka jalan, jadi bawaanya seharian itu enak aja gitu. Udah filosofis belum? Hehee~ kalau gak nyambung, yuk sambungin bang ^3^

IMG-20170808-WA0018

Sore itu kami habiskan dengan mengobrol. Dibuka dengan sesi perkenalan lanjutan, sampe ngomongin mantan. Terungkaplah bahwa ternyata si A adalah teman B, B adalah teman C, si A dan C saling kenal juga, dan terus berlanjut hingga Z. Bingung? Gak usah dibayangin. Pokoknya gitu, saling kenal satu sama lain.

Tapi, satu hal yang aku garis bawahi adalah, kemanapun kamu pergi, kamu tak pernah sendiri. Orang-orang yang suka jalan dan mulai masuk dalam lingkup tersebut, akan sadar bahwa link pertemanan juga semakin luas. Seperti setiap orang yang aku temui di jalan selalu memiliki sisi menarik untuk dikuliti, kalau mereka mau. Pengalaman mereka akan menjadi pelajaranmu nanti. Bersinggungan dengan banyak orang tidak akan merugikanmu. Bahkan manfaatnya akan terasa bila kamu diluar zona nyamanmu.

IMG-20170807-WA0010

Aku masih ingat dulu teman pernah bertanya, “Yun, kok kamu bisa gak pernah ngerasa insecure bahkan kamu baru nyampe di tempat ini?” Bohong bila aku bilang tidak merasa insecure di tempat baru. Setangguh apapun wanita, pasti memiliki sisi lemah dan takutnya kan? Dan aku satu dari sekian banyak wanita itu /oke abaikan/. Tapi pengalamanku yang bahkan belum seberapa memberiku tanda bahwa all is well because God is good. Beruntungnya adalah selalu ada orang baik yang memang disiapkan untuk kemudian aku kenal. Tapi harus tetep waspada yaa. Be brave, jangan jadi sok berani. ^^

So, weekend itu benar-benar membuktikan bahwa dunia hanya selebar daun kemangi. Kamu tidak BENAR-BENAR sendiri. Gak percaya? Kuy, angkat kaki dan jalan bareng lagi.

Leave a Reply