Skip to content

Hey, I Moved to Thailand!

Pindah dan menetap di negara orang belum terasa nyata sampai mobil jemputan menuju bandara merapat ke rumah. Pamitan yang berlangsung singkat biar ngga mewek menjadi perpisahan sementara dengan keluarga di 25 Juli pagi itu. Sugesti di kepala masih tentang jalan-jalan biar semuanya terasa lebih mudah dan ngga terlalu sepi karena harus serba sendiri. Kalau biasanya setidaknya sebulan sekali ikut andil menghabiskan jatah beras di rumah, kali ini ditabung dulu sampai berbulan-bulan ke depan. Yeps, I moved out.

Anyway, tulisan ini ngga akan bahas itinerary dan perintilan traveling lainnya. Tapi aku mau sharing sedikit soal ‘gimana, kok bisa, kenapa, blablabla …’ yaah, semoga bisa kasih sedikit insight buat siapapun yang baca. Mari kita mulai!

Kalau ditanya soal gimana caranya bisa kerja di luar negeri, jawabannya sederhana: cari yang diinginkan, lihat persyaratan, apply! *ditimpuk orang sekampung

Well, kalau ditanya detailnya semua berawal dari selebaran yang aku terima akhir tahun 2021 dari Lisa si manusia ular *thanks a lot anw! Isinya tentang rekrutmen pengajar bahasa Inggris non-Thai di Mae Fah Luang University, Chiang Rai. Bisa dibilang informasinya sangat sederhana meskipun sudah mencakup persyaratan, keuntungan yang didapat, dan tanggung jawab kerja nanti. Awal pertama lihat info ini, auto semangat pengen banget coba. Yaaa… siapa tahu memang pertanda waktunya pindah ke tempat kerja baru.

Tapi namanya baru pertama kali coba apply kerja di luar negeri, aku ngga bisa asal daftar gitu aja. Mau ngga mau demi meyakinkan diri sendiri dan orang tua, aku cari informasi lebih. Bukan cuma sekedar kepo di laman resmi kampus tapi juga cek profil orang-orang yang sudah atau sedang di program ini. Dari semua pencarian itu, kesimpulannya: TRUSTED. Nih, buktinya aku sampai sini juga eheheh.

Long story short, akhirnya aku berhasil kirim lamaran di menit-menit terakhir. Alasannya karena sertifikat bahasa sudah kadaluwarsa, jadi harus retake dan baru bisa tes setelah lewat sebulan atau lebih sejak dapat info ini. Juga, karena satu lain hal aku sama sekali lupa kalau hari itu tanggal terakhir pengiriman berkas. Alasan ini emang bodoh banget, sih! Ya sudah lah, meskipun kirim di last minute, at least ngga akan menyesali apapun karena udah coba.

Ternyata proses setelahnya berlangsung secepat kilat di luar dugaan. Dua minggu setelah konfirmasi lamaran diterima, jadwal wawancara sudah diatur di awal bulan Februari. Ngga butuh waktu lama, cukup dengan 20 menit yang hampir separuhnya diisi dengan micro teaching dan tanya jawab seputar pengalaman mengajar. Yang jelas membekas di ingatan adalah jawaban seadanya. Beneran yang ada di kepala, ya itu yang keluar. Ya sudah, nothing to lose. Ngga ada kepikiran bakal diterima but I did my best.

Seminggu berlalu. Di siang bolong pas lagi mau ngajar, tiba-tiba ada surel masuk dengan kata CONGRATULATION di bold dan caps lock di bagian paling depan. I was shaking dan demi menjaga image ditahan-tahan itu biar ngga mewek terharu di kelas hahaha. Psst… yang jadi pertanyaan khalayak ramai mungkin adalah, “kok bisa jadi dosen, sih, kan belom S2?” Well, pemirsa sekalian, akupun juga ngga paham gimana proses seleksi mereka setelah dari tahap wawancara ini. Menurutku, persyaratan IELTS minimal 7 cukup bisa dijadikan tolak ukur terkait kemampuan bahasa Inggris. Selain itu, pegalaman mengajar di mana dan seberapa lama adalah faktor pertimbangan lainnya yang menjadi penentu diterima atau ngga. Yang lainnya? Who knows? Coba dulu aja, kan ngga rugi juga.

Anyway, dari sejak email diterima, aku ngga lagi lanjutin proses aplikasi lain-lain yang masih jadi target tahun itu. Semuanya hanya tinggal menunggu dokumen dikirim untuk pengurusan visa dan lainnya. Psstt… sambil nabung buat modal berangkat lol! Tbh, aku sempat ragu antara jadi berangkat atau ngga setelah pengumuman diterima itu. Soalnya ada jeda sekitar lima bulan sampai kemudian dokumen fisik sebagai pelengkap persyaratan visa sampai di tangan.

Kalau dipikir-pikir memang benar yang dibilang orang-orang; sesuatu kalau memang sudah jadi rejekinya jadi lebih gampang prosesnya. Setelah menerima dokumen untuk pengurusan visa di sekitar bulan Juli, aku baru mempersiapkan dokumen pendukung lainnya. Semuanya serba mendadak dan beruntungnya bisa beres di waktu yang mepet hehe, apalagi soal SKCK yang harus diurus sampai ke Surabaya.

Kemudahan ngga berhenti di situ. Untuk aplikasi visaThailand ini harus dilakukan di Royal Thai Embassy Jakarta. Ngga ada proses wawancara, bisa diwakilkan dan dokumen akan langsung diterima asalkan sesuai dengan persyaratan yang diminta. Lucky me, I had Stevani helping me a lot at that time. Thanks! Kebayang, kan, bisa hemat waktu dan biaya kaya gimana untuk bolak-balik Jakarta karena visa baru jadi setelah kurang lebih empat hari kerja. Kalo berangkat sendiri opsinya antara capek di jalan atau boncos gabut nunggu di sana wkwkw.

Oh, soal biaya visa ini ngga ditanggung pihak kampus, ya. Dan enaknya ngga perlu ambil yang multiple jadi bisa lebih murah. Ensure this before you apply, apalagi untuk negara yang aplikasi visanya mihil lol.

Di pertengahan Juli semua proses dokumen untuk keberangkatan sudah beres. Karena kampus sudah mulai aktif sekitar awal Agustus, dosen baru diminta untuk bisa sampai di Thailand sebelum tanggal 28 Juli. Baiklah, mari berburu tiket! Iya, untuk urusan transportasi harus pesan sendiri, guys. Tapi tenang, semua tiket transportasi dari rumah sampai tiba di kampus akan diganti dengan limit yang sudah ditentukan sebelumnya. Meskipun ujung-ujungnya diganti, sebagai makhluk dengan jiwa backpacker batinku menjerit melihat tiket pesawat yang oh my god mihil bingit dan berubah dalam hitungan jam.

bangkok thailand

Oya, simpan dokumen penting dalam betuk fisik, pdf atau foto juga wajib. Alasan utamanya adalah untuk membuktikan bahwa kita pergi dengan legal dan ada penanggung jawabnya gitu. Beda maskapai mungkin beda kebijakan, tapi ngga rugi juga kan kalau siapin. Jangan kaya aku kemaren pas check in diminta bukti invitation letternya tapi ngga punya apa-apa alias berangkat bodongan wkwwkk. Syukurnya meskipun sempet gupuh dan keringat dingin, pihak kampus gercep banget balesin email untuk kirim invitation letter ini. Horaay, akhirnya lolos! Perjalanan Blitar – Surabaya – Singapore – Bangkok – Chiang Rai dimulai di pagi itu tanggal 25 Juli.

Thailand, sawaddi khaa~

Tags:

17 thoughts on “Hey, I Moved to Thailand!”

  1. Aaaahhh makasih udah sharing, Yun! Been waiting for the story karena aku udah ga telaten ngikutin update sosmed akhir-akhir ini huehehe

    Selain itu, just wanna say it’s nice to read updates from friends on their blog. Semoga lancar dan hepi-hepi ya kerjanya di sana! 💚

  2. Kerenn nya MasyaAllah mba Yunisa iniiii….. bacanya aku sambil senyum-senyum ikutan seneng, 😁 Barakallah lancar selalu di Thailand

Leave a Reply