Sabang dan Pulau Rubiah, Cantiknya Laut yang Menggoda

Aceh itu magical, begitupun Sabang. Gimana ngga, pertama kali nyampe udah kepikiran buat pindah dan tinggal di sana aja. I love the ambience. Dan beruntungnya cuaca ketika itu sedang enak-enaknya. Maklum musim hujan tapi ngga sering hujan. Mendung dengan angin yang enak, panas kadang-kadang.

Sabtu sore waktu itu, tepatnya tanggal 6 desember 2019. Keluar dari bandara, sopir pribadiku langsung mengajak merasakan rujak buah khas Aceh. Lokasinya di Blang Bintang. Tempatnya di pinggir sawah dengan angin yang sungguh nikmat. Sepiring kecil dengan rasa unik dan masih bisa diterima lidah. Sebelum pulang ke rumah untuk istirahat, kami sempat mampir untuk membeli makanan. Berhubung masih lumayan kenyang, akhirnya kami hanya membeli martabak mesir dan martabak manis. Ulasan rasa dan harga nanti ya, di postingan terpisah. Itineraryku sudah direncanakan dengan baik oleh guide terpercaya seantero Aceh. Meskipun informasi yang keluar dari mulutnya belum tentu bisa dipercaya. Esok pagi, aku akan langsung bertolak ke ujung barat negeri ini, Sabang.

Dari Banda Aceh ke Sabang

Masih belum percaya rasanya kalau aku bisa menjejakkan kaki di pulau ini. Perjalanan terjauhku di Indonesia. Barang sudah disiapkan, sebelum jam 8 kami berangkat ke pelabuhan untuk mengejar kapal jam 8. Sayang waktu terlalu mepet, kami memutuskan untuk ikut jadwal selanjutnya. Ya sudah, sambil menunggu kami pergi mencari sarapan dan beberapa keperluan. Daripada beli di Sabang yang notabene sedikit lebih mahal daripada di Banda Aceh. Dari pusat kota ke pelabuhan Ulee Lheue Balohan tidak jauh, sekitar 20 menit perjalanan. Sampai sana kami langsung antri dan membeli tiket.

Oh, kapal yang kami naiki waktu itu namanya Tanjung Burang. Harganya sekitar 33K/orang. Sedangkan untuk motor dikenakan tarif 39K. Normalnya perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan kapal besar. Opsi lain kalau kalian ngga bawa kendaraan adalah dengan memilih kapal cepat. Harganya sedikit mahal tentu saja sekitar 80K. Tapi worth it, bisa lebih cepat 1 jam. Jadwalnya mungkin bisa dicek di sini.

Kapal Tanjung Burang
Kapal Tanjung Burang

Sedikit kurang beruntung, ombak cukup besar ketika kami berangkat. Waktu yang harusnya hanya sekitar 2 jam, molor sampe 3 jam lebih. Berangkat jam 10.40, kami tiba di Sabang sekitar pukul 2 siang. Langsung mampir ke masjid terdekat untuk sholat. Setelahnya segera ngebut ke Titik Nol Kilometer Indonesia. Meskipun jauh di ujung, sungguh menyenangkan selama di perjalanan, tak ada macet. Bahkan kita bisa menjadi satu-satunya kendaraan yang melintas. Ahh.. masih saja belum percaya aku tiba di Sabang, lagi dan lagi. Gerimis mulai turun sedikit, tapi pantang menghentikan semangat kami untuk tiba di sana. Pemandangan di sepanjang jalan menjadi teman yang menyenangkan. Monyet nongkrong di pinggir jalan juga masih banyak ditemukan.

Parkiran-Kilometer-Nol-Sabang
Parkiran Nol Kilometer Indonesia

Titik Nol Kilometer Indonesia

Setelah sekitar 1 jam akhirnya kami tiba di tempat parkir. Berjalan sedikit dari parkiran monumen Nol Kilometer Indonesia sudah nampak di sebelah kanan. It was unbelievable. Menikmati samudra lepas sambil menunggu matahari terbenam sungguh indah. Meski mendung dan sunset tak terdeteksi. Tapi indah. Sayangnya, monumen yang seharusnya terlihat bagus itu tidak terawat dengan baik. Banyak cat yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Parahnya tangan-tangan jail semakin merusak itu semua. Dari atas angin bertiup lumayan kencang. Selain menikmati monumen, melihat samudera dari dekat juga bisa jadi opsi lho. Ada beberapa tangga yang akan mengantarkan kalian melihatnya. Hati-hati karena tangga yang terbuat dari kayu itu sudah lapuk dan bolong di beberapa bagian. Pelajaran penting, jangan tinggalkan apapun di motor. Monyet di sini ganas dan jail. Makanan yang sudah kami persiapkan untuk menikmati laut malam harinya raib dibawa mereka.

Penginapan di Pantai Iboih Sabang

Setelah puas kami memutuskan untuk kembali mencari penginapan. Si Upil sudah punya plan mau stay di mana sebenarnya, di daerah Pantai Iboih. Ada banyak pilihan tapi ya ujung-ujungnya balik ke tempat awal. Kami menginap di Rahmat Homestay, sama seperti nama pemiliknya. Bang Rahmat pemilik bungalow sudah sungguh sangat baik. Ohya, dan tempatnya juga sangat enak, depan Pulau Rubiah. Ditambah dengan tempat tongkrongan enak di depannya. Satu kamar AC dikenakan harga sekitar 350K/malam, bebas mau di isi berapa orang. Kalau budget ngga mencukupi, banyak pilihan penginapan yang lain. Bahkan yang 100K/malam juga ada, tergantung fasilitas dan preferensi masing-masing sih ya.

  • Bungalow Pantai Iboih Sabang
  • Rahmat Bungalow Sabang

Snorkeling Pulau Rubiah

Sebagian besar tempat penginapan sudah sekalian menyediakan jasa untuk snorkelling ke Pulau Rubiah. Untuk harga kurang lebih juga sama, tergantung negonya saja. Harga normal perahu besar PP 200K yang biasanya bisa diisi sampai 10 orang. Kalau perahu kecil kena harga 100k yang paling bisa keisi maksimal 5 orang. Harga perahu ini sudah termasuk tarif masuk ke Pulau Rubiah. Kalau temen-temen pengen foto underwater tapi ngga ada action cam, bisa sewa dengan harga 150K. Dan semua wajib sewa guide dengan harga 150K. See? Main ramean lebih enak dan jatuhnya lebih murah untuk share cost. Nah, untuk alat snorkelnya dikenakan harga 40K include pelampung dan fin. Tapi boleh kok kalau mau sewa pelampung aja, 20K/orang. Kalau mau diving juga bisa banget, harganya? Tentu saja lebih mahal ngga tau berapa eheheh

Airnya keruh, kan? πŸ™

Karena bukan musim liburan, beruntungnya area snorkelling lumayan sepi pengunjung. Ngga kaya pas high season yang mana udah pasti kaya cendol. Tapi ngga beruntungnya, cuaca membuat air tidak begitu jernih. Ikan yang biasanya effortlessly bisa dilihat tanpa harus cemplungin kepala ngga bisa begitu kelihatan, air lagi keruh. Tapi syukurnya masih bisa lihat nemo. Yang membuat semakin sedih adalah foto yang ngga bisa maksimal bagusnya hiks. Tapi ini yang membuat aku bertekat buat bisa ke sana lagi, syukur-syukur udah ngga sendirian wkwkwk. Guidenya lumayan baik dan enak, meskipun gampang banget kedinginan. Dan terlalu sering break buat ngerokok haha. Ya maklum bentar hujan bentar ngga. Dan ya karena sudah memutuskan untuk segera pulang hari itu juga, kami bergegas. Segera kembali ke penginapan dan beberes karena mau mampir di tempat lain.

Gua Sarang Sabang

Kami menargetkan untuk sampai di pelabuhan Sabang jam 2 siang, sesuai dengan jadwal kapal besar. Jam 12 siang kami sudah meninggalkan penginapan dan ngebut untuk mampir di Gua Sarang. Tiket masuknya cukup 5K/orang. Lagi, kami tergesa-gesa meskipun tetep aja ngga bisa pergi begitu saja tanpa ada kenangan foto di sana. Tangga turun ngga begitu banyak, tapi jalan batu-batuan untuk tiba di Gua Sarang lumayan melelahkan. Sudah tau buru-buru, kami masih juga sempetin naik ke bukit batu buat foto-foto. Inget, udah jauh-jauh ke Aceh, jangan sampai ada penyesalan apapun. Belum tentu dalam waktu dekat bisa kembali lagi, eheheh.

  • View Gua Sarang
  • Gua-Sarang

Dan yah, tempat ini emang bagus, banget! Gradasi air laut tosca dan biru yang jadi daya tarik utamanya. Sebenarnya ketika di Rubiah tadi kami sempat ditawari untuk ditemenin snorkelling di sini. Tapi ya gitu, waktu belum mengijinkan kami untuk mengambil kesempatan tersebut. Sudah cukup ngos-ngosan dan istirahat sebentar, kami langsung ngebut ke pelabuhan. Tentu sambil banyak berdoa semoga kapal akan terlambat dari jadwal. Plan kedua kalaupun nanti ketinggalan, ya sudah cari penginapan murah di kota. Siapa tau bisa main ke Pantai Sumur Tiga dan Air Itam.

Dari Sabang ke Banda Aceh

KMP BRR Sabang
KMP BRR

Jam 2 lebih kami tiba di pelabuhan. Beruntungnya kapal akan berangkat sekitar jam 4 sore. Uang sudah tak ditangan karena mau ambilpun tak ada ATM. Ngga papa, mari menahan lapar hingga 2 jam ke depan. Harga tiket kurang lebih sama seperti sebelumnya. Kami mendapatkan kapal yang sedikit lebih besar, namanya KMP BRR. Perjalanan sore dari Sabang ke Banda Aceh waktu itu entah mengapa terasa begitu nikmat. 2 jam persis tak terasa. Meskipun setelah itu gosong karena kami kebagian tempat duduk tanpa atap saking ramainya. Tapi enak, nyaman aja gitu rasanya. Sambil menikmati Pulau Sabang yang perlahan mengecil, aku berkata dalam hati, Insyaa Allaah kita akan ketemu lagi.

Note:
Kontak Rahmat Bungalow: +62 823 6220 7588

Don't Miss This

1 Comment

  1. […] keempat di Aceh masih belum jauh dari cerita pantai dan bukit, Bukit Lamreh ini contohnya. Karena ya emang se-effortless itu untuk bisa chill di […]

Leave a Reply