Perjalanan Takengon – Lhokseumawe Modal Nekat!

Jauh sebelum tiba di Aceh, aku sempat memasukkan Takengon ke dalam bucket list. Kenapa lagi kalau bukan karena penasaran dengan Tanah Gayo dan kopinya. Tapi beberapa hari sebelum berangkat, ada pertimbangan destinasi lain yang sempat membuatku goyah. Bersyukurnya, karena alasan jarak dan waktu, kami lanjutkan ke plan pertama untuk mengunjungi Aceh Tengah. Tanah Gayo, here we come!

Entah bagaimana, seteleh beberapa hari di Aceh, konsep jam pagiku mulai berubah. Seringnya jam 07.00 atau paling ngga jam 08.00 sudah otewe biar ngga terlalu panas. Tapi boro-boro jam segitu udah siap nangkring di atas motor, justru baru mulai bersiap untuk mandi dan sarapan. Alhasil setelah mampir sana sini – dan demi berusaha menghindari siang yang mendung dan bahkan hujan – kami berangkat setelah lewat jam 10.00. Tenang, ini masih pagi kok kalau di Aceh ehehe.

Langit biru membentang, awan putih berarakan, dan jalan yang mulus dan panjang di depan mata. Ceilaah~ Rute perjalanan kami hari itu adalah dari Sawang Lhokseumawe, ke arah Gunung Salak, melewati Bener Meriah, Rembele Airport, dan tibalah di Takengon. Dengan menggunakan sepeda motor, perjalanan selama kurang lebih 4 jam ini menjadi hal yang sungguh menyenangkan bahkan sejak pertama kami memasuki daerah pegunungan yang dingin. Syukurnya, rejeki banget selama perjalanan ngga ada hujan sama sekali. Bodo amat kulit gosong karena panas, yang penting aku seneng. Abis itu treatment kan bisa, yak!

bandara takengon
Rembele Airport
Danau Lut Tawar

Di satu sisi kami tidak ingin terlalu menghabiskan waktu di jalan karena takut tiba sebelum malam. Namun, di sisi lain kami tidak ingin melewatkan pemandangan-pemandangan yang akan sangat sayang kalau hanya dinikmati mata dalam sekali kejap. Jadi, beberapa kali kami berhenti dengan kamera yang sudah siap agar lebih menghemat waktu. Sengaja kami tidak mampir di rest area di sekitar puncak karena pasti akan lebih lama.

Semakin mendekati Tanah Gayo, semakin banyak kebun kopi di kanan dan kiri jalan. Jalan yang sepi dan udara yang dingin bahkan berkabut membuat kami betah menikmati perjalanan siang itu. Saking senengnya, kami berjingkrak bahagia ketika harus berhenti di perempatan jalan – yang padahal bisa nyelonong aja karena ngga ada kendaraan selain kami. Tau gak, sepanjang jalan aku senyum-senyum bahagia teroooss apalagi pas dari atas aku sempat lihat ada Danau Lut Tawar yang canteeeek uhuhuu cry sih itu!

Nah, karena judulnya adalah perjalanan modal nekat, ini dia cerita serunya dimulai. Makanya jangan skip, ya!

Well, setelah berkeliling Takengon, kami nekat pulang kembali ke Lhokseumawe karena janji dengan seorang teman. Mendung sudah menggantung di atas, dan sudah cukup sore sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Setelah menyempatkan take away kopi endolita untuk terakhir kalinya, kami berangkat sekitar jam 16.00. Seriusan, itu beneran nekat!

amunisi untuk mengarungi Gunung Salak ehe~

Perjalanan awal terbilang cukup aman, meski gerimis sudah turun dan sempet bikin basah jaket, tapi belum tembus sampe ke dalem-dalem, kok. Kami terus melanjutkan perjalanan tanpa henti. Semakin naik ke atas, hujan bertambah deras dan kabut mulai turun. Jarak pandang juga semakin pendek. Tambah menderita aja aku ini. Jadi driver di depan, pake kacamata, pake masker, trus kalau kaca helm ditutup jadi tambah burem wkwkkww. Kalau nyetirnya pelan, tambah basah kuyup dan ngga cepet nyampe. Kalau berhenti, ngga ada tanda-tanda hujan bakal cepat reda. Mau beli jas ujan, eh, udah masuk ke perbukitan, tau lah ya minim toko. Kalau ngebut kok ya tulung, rek, nyawaku ngga sebanyak kucing. Walhasil alon-alon asal kelakon alias slow but sure.

Langit mulai gelap ditambah mendung yang masih tebal. Sekitar pukul 18.00 kami memasuki puncak Gunung Salak yang mana hampir ngga ada rumah penduduk di sana. Sejauh yang kami lihat hanya ada satu dua rumah yang nampaknya hanya digunakan sebagai tempat singgah di siang hari. Di depan kami ada satu mobil putih dan di belakang tidak ada siapapun. Jadi artinya hanya ada dua kendaraan ini yang saling beriringan. Mobil ini sengaja kami ikuti sejak di bawah tadi sebenarnya, biar lebih merasa aman aja kalau di jalan.

Dengan kecepatan yang stabil kami mengikuti terus mobil ini dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kabut masih cukup tebal tapi hujan sudah reda. Tiba-tiba BRAKKK!! Motor kami berhenti seketika. Tanganku gemetaran, jantung kami berdegup kencang. Mobil di depan sudah menghilang. Tidak ada siapapun di sana selain kami berdua. Kami turun dan mengecek kondisi kendaraan. Ini masih separuh perjalanan dan kalau ada apa-apa kami ngga tau harus minta tolong ke siapa. Ternyata klakson motor ngga bisa bunyi, dan lampu utama mati. Panik ngga tuh, panik laah toloong. Mana udah gelap, lho, ini!

Tangan masih kerasa sakit, karena sempat nahan setir pas berhenti tiba-tiba tadi. Tapi kami ngga bisa berhenti lama di situ. Akhirnya pelan-pelan kami lanjutkan perjalanan. Berdoa banyak-banyak biar aman sampe kota nanti. Ngga jauh di depan, kami melihat lampu berwarna merah di pinggir jalan. Rupanya itu adalah mobil putih yang tadi kami ikuti sejak dari bawah. Mereka nungguin kita, GUYS! MEREKA NUNGGUIN! Sekilas kami melihat mereka menengok dari jendela mobil dan memastikan bahwa kami baik-baik saja dan mempersilahkan kami berada di depan. Ya Allaaah bahagianya kami malam itu. Mobil mereka membantu menerangi kami dan mereka menggunakan klakson tepat ketika kami membutuhkan. Terharuuuu huhuhu~

Sekitar satu jam kemudian kami memasuki desa titik awal kami berangkat. Pelan-pelan kami masih memperhatikan mobil di belakang dan rupanya mereka berbelok arah ke kanan. Mereka memberi salam kepada kami dengan membunyikan klakson tanda perpisahan. Tak bisa mengucap terimakasih dan membalas klaksonnya, kami melambaikan tangan dan berdoa banyak-banyak untuk mereka yang di mobil putih itu. Semoga perjalanan mereka selamat, ya!

Ssst, kalau kalian penasaran kenapa kami berhenti tiba-tiba di tengah jalan tadi, tidak lain tidak bukan karena itu, iya ITU! Apa hayoo? Karena lubang di jalan yang dalem banget, Guys! Parah banget lah itu. Untung aja lubang, jelas bentuknya. Daripada yang ngga kasat mata, kan? Hiii~

*ada video pendeknya di highlight IG, mampir ya!

Leave a Reply